Pengembangan Modul

Pengertian Modul

Modul adalah bahan belajar yang dirancang secara sistematis berdasarkan kurikulum tertentu dan dikemas dalam bentuk satuan pembelajaran terkecil dan memungkinkan dipelajari secara mandiri dalam satuan waktu tertentu (Purwanto, 2007: 9). Berdasarkan definisi tersebut maka dalam pengembangan modul harus sesuai kurikulum yang saat ini berlaku yaitu KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) di mana pengembangannya diserahkan kepada sekolah agar sesuai dengan kebutuhan sekolah itu sendiri sehingga modul yang dikembangkan disesuaikan dengan situasi dan kondisi suatu sekolah. Modul juga harus sistematis dan jelas dilihat dari susunan kata dan bahasa yang mudah dimengerti sehingga guru dan siswa dapat memahami secara mandiri isi dari modul tersebut.

Tujuan Pengembangan Modul

Pengembangan modul hendaknya memperhatikan tujuan dari penyusunan modul. Menurut Purwanto (2007: 165), tujuan penyusunan modul bagi siswa adalah: (a) untuk memudahkan siswa dalam mempelajari bahan belajar, sehingga mencapai tujuan instruksional, menguasai pengetahuan, keterampilan atau kompetensi tertentu; (b) disajikan untuk siswa atau audience tertentu dengan asumsi mereka dapat mempelajarinya secara individu atau secara mandiri; (c) untuk membimbing dan mengarahkan siswa dalam proses belajar, termasuk proses diklat; dan (d) dapat meningkatkan kesiapan (readiness) siswa agar dapat belajar secara lebih terarah dan terprogram, sehingga proses belajar menjadi lebih efektif dan efisien. Sedangkan tujuan penyusunan modul bagi guru adalah supaya menjadi acuan dalam menyajikan dan memberikan materi selama diklat atau kegiatan pembelajaran berlangsung.

Selain menjelaskan tujuan,  Purwanto (2007: 10) juga menjelaskan tentang fungsi dari modul. Fungsi dari modul adalah sebagai bahan belajar yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran siswa. Dengan modul siswa dapat belajar lebih terarah dan sistematis. Siswa diharapkan dapat menguasai kompetesi yang dituntut oleh kegiatan pembelajaran yang diikutinya. Modul juga diharapkan memberikan petunjuk belajar bagi siswa selama mengikuti diklat atau kegiatan pembelajaran.

Kriteria Modul yang Baik

Modul yang baik harus memenuhi kriteria-kriteria tertentu. Hal ini dijelaskan dalam Peraturan Kepala Lembaga Administrasi Negara no.5 tahun 2009 bahwa modul yang baik disusun sesuai dengan kebutuhan belajar dalam sebuah proses pembelajaran, yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut.

  1. Self instructional, yaitu dapat dipelajari oleh siswa secara mandiri, tanpa bantuan atau seminimum mungkin bantuan dari guru.
  2. Self contained, yaitu mencakup deskripsi dan tujuan mata diklat, batasan-batasan, standar kompetensi yang harus dicapai, kompetensi dasar, indikator keberhasilan siswa, metode, rangkuman, latihan-latihan, yang secara keseluruhan ditulis dan dikemas dalam satu kesatuan yang utuh.
  3. Independent, yaitu dapat dipelajari secara tuntas, tidak tergantung pada media yang lain atau tidak harus digunakan bersama-sama dengan media lain.
  4. Self assessed, yaitu memuat alat evaluasi pembelajaran untuk mengukur tingkat kecakapan siswa terhadap modul.
  5. User friendly, yaitu memiliki sistematika penyusunan yang mudah dipahami dengan bahasa yang mudah dan lugas, sehingga dapat dipergunakan sesuai dengan tingkat pengetahuan siswa.

Modul yang baik juga harus memiliki tampilan yang menarik bagi siswa agar perhatian siswa terhadap materi pelajaran dapat meningkat, seperti yang diungkapkan oleh Deni Kurniawan (2007) dalam Fitrotul Hikmah (2009) bahwa modul merupakan alat atau sarana pembelajaran yang berisi materi, metode, batasan-batasan, dan cara mengevaluasi yang dirancang secara sistematis dan menarik untuk mencapai kompetensi yang diharapkan sesuai dengan kompleksitasnya. Hal ini diperkuat dengan pendapat Purwanto (2007: 169) bahwa secara fisik modul harus menarik bagi siswa, dan isinya harus berkaitan dengan bidang interest.

Modul digunakan sebagai panduan pembelajaran secara mandiri. Oleh karena itu, dalam penyusunan modul perlu menggunakan prinsip-prinsip dalam penulisan modul agar tercipta suatu modul yang baik dan benar. Prinsip-prinsip penulisan modul yang dijelaskan dalam Peraturan Kepala Lembaga Administrasi Negara no.5 tahun 2009 adalah sebagai berikut.

  1. Memenuhi lima kriteria modul yang baik (self instructional, self contained, independent, self assessed, dan user friendly).
  2. Modul yang disusun harus mengacu pada kurikulum diklat dan digunakan dalam suatu program diklat.
  3. Disusun secara rasional atas dasar analisis, sesuai dengan tingkat kompetensi yang harus dicapai oleh siswa setelah menguasai modul.
  4. Memuat indikator keberhasilan agar peserta diklat dapat mengetahui secara jelas hasil belajar yang menjadi tujuan pembelajaran.
  5. Isi modul harus merupakan bahan yang terkini (up-to-date), sesuai dengan tuntutan perkembangan.
  6. Memuat contoh-contoh dan latihan-latihan yang relevan sehingga siswa dapat menerapkan di lingkungannya.
  7. Sumber pustaka yang dipergunakan minimal lima referensi, baik dalam bentuk buku atau karya tulis ilmiah, yang tahun penerbitannya tidak lebih 10 tahun sebelum modul ditulis.
  8. Acuan dalam bentuk peraturan dan perundangan harus merujuk pada peraturan dan perundangan yang berlaku.
  9. Ditulis oleh perorangan atau tim yang ditugaskan oleh pimpinan instansi, dengan anggota tidak lebih dari 2 (dua) orang yang kompeten dalam bidang yang ditulis.
  10. Penulisan modul harus mengacu pada kaidah penulisan karya tulis ilmiah.

Pendekatan dalam Penyusunan Modul

Salah satu tujuan pembelajaran dalam kurikulum saat ini adalah memberikan pengalaman hidup yang kontekstual dengan dasar pembelajaran yang menyenangkan. Hal ini menjadi dasar pendekatan yang digunakan dalam penyusunan modul pada penelitian ini, yaitu dengan menggunakan pendekatan kontekstual. Sehingga, modul diharapkan dapat membantu siswa untuk belajar secara kontekstual yang terdiri dari asas konstruktivisme (constructivism), inkuiri (inquiry), bertanya (questioning), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), dan penilaian nyata (authentic assessment) (Dharma Kesuma, 2010: 62). Oleh karena itu, aktivitas-aktivitas siswa yang dicantumkan dalam modul mengandung unsur kontekstual yang berpedoman pada asas-asas kontekstual.

Sumber:
Nurhidayat. 2013. Pengembangan Modul Panduan Outbound untuk Mengoptimalkan Creativity Domain Science pada Siswa SMA. Skripsi, tidak dipublikasikan. Universitas Muhammadiyah Purworejo, Purworejo.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: