Tausiah: Tips-Tips Memanjangkan Umur

one_eyeland_indonesian_old_man_by_rv_setiawan_81278

Yang dapat memanjangkan umur manusia amat banyak, hanya yang bersifat praktis dan sederhana yaitu amal jariyah, mendidik anak shaleh, mengajarkan ilmu, mencari ilmu dan silaturahmi.

  1. Amal Jariyah

Beramal jariyah adalah mengerjakan amal yang bermanfaat sepanjang masa untuk agama dan umat manusia, amal yang dimaksud seperti jariyah atau wakaf uang, tanah, mas atau barang untuk kepentingan jalan, masjid, pesantren, madrasah dan sarana lainnya. Walaupun sudah wafat, orang yang beramal jariyah atau wakaf akan dikirimi langsung pahalanya sampai hari kiamat. Umur manusia kurang lebih hanya 60-80 tahun, tapi pahala amalnya bisa sampai ratusan bahkan ribuan tahun, sepanjang jariyah dan wakaf itu masih dimanfaatkan. Semakin banyak orang yang menikmati manfaat dari amal tersebut, semakin banyak pula pahalanya.

Amalan apapun yang berbentuk pengorbanan yang hukumnya sunnah seperti berulang-ulang haji atau umrah dll, pahalanya tidak bisa dibandingkan dengan pahala wakaf atau jariyah. Sebab menurut kaidah, pahala ibadah yang hanya dinikmati sendiri tidak lebih baik dibandingkan dengan ibadah yang bisa dinikmati oleh orang banyak kecuali kalau amalan sunnah itu tidak melupakan dengan sodaqoh jariyahnya, artinya semuanya dikerjakan secara berimbang.

  1. Mendidik anak shaleh

Shaleh tidak hanya berarti pintar dan cerdas, boleh jadi orang shaleh tidak cerdas atau orang cerdas tidak shaleh. Arti shaleh di sini diantaranya adalah rajin berdoa untuk kedua orang tuanya. Meskipun demikian doa tidak hanya diartikan membacakan lafadz doa, tetapi juga dengan perkataan, perbuatan dan sikap yang baik terhadap orang tua serta bermanfaat untuk orang banyak atau sekurang-kurangnya tidak menjadi beban bagi orang lain juga termasuk doa. Segala bentuk kebaikan anak yang shaleh akan langsung menjadi investasi bagi orang tuanya, meskipun tidak secara khusus dikirimkan (dihadiahkan). Meskipun orang tua sudah wafat, keshalehan anak, cucu dan keturunan akan menjadi pahala bagi mereka.
Oleh karena itu, mendidik anak dengan ilmu agama sangatlah penting, pendidikan tersebut bisa berupa membaca al-Qur’an, rajin shalat dan beribadah, serta berakhlakul karimah. Dalam hal ini, peran lembaga pendidikan yang dijadikan tempat mengajarkan ilmu bagi anak kita sangat menentukan. Setiap orang tua akan bahagia di alam kuburnya bila selalu disertai doa dan amal saleh dari anak cucunya.

  1. Mengajarkan Ilmu

Ilmu itu salah satu sifat Allah, siapa pun yang terlibat di dalamnya akan dimuliakan. Allah akan mengangkat tinggi derajat manusia yang berilmu melebihi derajat manusia pada umumnya. Orang yang berilmu diibaratkan sang surya yang bersinar menerangi bumi ini. Ilmu itu cahaya, sedangkan kebodohan itu adalah kegelapan. Betapa banyak manfaat orang yang berilmu, dia telah mengubah gelap menjadi terang, sesat menjadi benar, ketidaktahuan menjadi pengetahuan. Orang yang berilmu menjadikan manusia mampu membedakan antara jalan lurus dan jalan yang bengkok, antara yang benar dan yang salah. Kita semua menjadi ‘bisa’ karena jasa guru-guru kita sampai akhirnya kita beramal, beribadah, berkarya. Semua guru, meskipun telah tiada, akan mendapatkan pahala yang tak terputus dari ilmu yang diajarkannya. Oleh karena itu, setiap pelajar harus hormat, berbakti, dan mendoakan guru-gurunya. Imam Ali ra. pernah berkata: “Aku adalah hamba seorang yang telah mengajariku ilmu walaupun hanya satu huruf.”Umur guru itu pendek, sedangkan umur kebaikannya bertahan selamanya melalui manfaat ilmu-ilmu yang diamalkan oleh murid-muridnya.

  1. Mencari Ilmu

Mencari ilmu merupakan kewajiban bagi setiap umat Islam, kewajiban itu berlaku seumur hidup. Rasulullah bersabda: “Bila matahari terbit tapi tidak pernah bertambah ilmu sampai terbenamnya, maka tidak ada berkah hari itu bagiku.” (Al Hadis)  Materi ilmu yang kita cari adalah ilmu yang membuat kita semakin dekat dengan Allah, tertarik dengan kenikmatan surgawi (ukhrawi), takut kalau maksiat apalagi azab neraka, dan semakin  mempererat jalinan silaturahmi (persatuan) dengan semua manusia. Umur kita memang tidak panjang tapi dengan thalab al-ilm, Allah telah menjanjikan kemudahan jalan untuk kita menuju surga dan nama kita akan selalu terukir di Arasy dan disebut-sebut Allah di hadapan para malaikat-Nya.

  1. Silaturahmi

Dalam pandangan awam silaturahmi sering diartikan berkunjung, meskipun demikian, silaturahmi itu bisa diartikan kebaikan hati dan perbuatan yang terjalin antar individu meskipun jarang atau bahkan tidak pernah bertemu. Bila diartikan secara gamblang, silaturahmi adalah pertemuan yang disertai dengan perkataan dan perbuatan yang baik, tulus dan tanpa pamrih.
Umur orang yang bersilaturahmi akan dipanjangkan, tentu saja yang dimaksud di sini adalah umur kebaikannya karena selalu membina komunikasi yang baik kepada siapapun dan berkolaborasi dalam mewujudkan kemaslahatan bersama. Nabi SAW pernah bersabda: “Siapa yang ingin panjang umurnya dan banyak rizkinya hendaknya ia rajin bersilaturahmi.” Agar silaturahmi selalu terjalin dengan baik, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan di antaranya: 1) selalu pemaaf; 2) tak berburuk sangka kepada siapapun; 3) suka memberi tanpa mengharap untuk dibalas; 4) mau berkunjung walaupun dia tidak senang; 5) tidak mencari-cari kesalahan orang lain; 6) bergembira atas kebahagiaan orang lain dan bersedih atas musibah orang lain; 7) selalu berbuat baik untuk orang lain bukan menuntut; 8) mengungkapkan doa untuk orang lain walaupun tanpa diminta; 9) berkata yang menyenangkan bukan yang membebani; 10) ucapkan salam bila tidak sempat berjumpa. Dengan sepuluh macam itu, meskipun seseorang telah meninggal maka kebaikannya akan selalu dikenang. Meskipun jasadnya sudah hancur dimakan rayap dan bercampur tanah tapi namanya tetap cermerlang sepanjang masa.

Dari lima point tersebut di atas, alangkah baiknya andaikata kita programkan untuk memperpanjang umur kita, sebab memperpanjang umur dengan selain lima point tersebut tidak begitu signifikan manfaatnya. Misalnya dengan memperbanyak olahraga, protein, vitamin, pola hidup, pola makan, dan lain sebagainya tidak akan mampu memberikan kebaikan sebaik wakaf, mendidik anak, ta’lim al-ilmithalabul ilmi, dan silaturahmi. Kebaikan umur manusia tidak diukur dengan jumlahnya tapi dinilai dari amal shalehnya Allah berfirman:

اِنَّا نَحْنُ نُحْيِ الْمَوْتٰى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوْا وَاٰثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ اَحْصَيْنٰهُ فِيْۤ اِمَامٍ مُّبِيْنٍ

Sungguh, Kamilah yang menghidupkan orang-orang yang mati, dan Kamilah yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka (tinggalkan). Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab yang jelas (lauh mahfuz).” (QS. Yaasiin: 12)

Pepatah mengatakan: “Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama,” dan “Hidup mulia atau mati syahid.”

Tausiah ini saya sampaikan pada hari Rabu, 10 September 2014 pukul 07.15 di ruang guru SMP Luqman Al-Hakim Balikpapan.

Sumber: www.smpalmuhajirin.com

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: