Cerpen: Abu dan Samar


Oleh: Nicki R. Alpanchori


Jumat pagi dengan langit sedikit mendung, ketika seorang musyafir bernama Ikhsan hendak melewati sebuah desa kecil. Karena merasa lelah, ia memutuskan untuk beristirahat sejenak untuk sekedar melepas lapar dan dahaga yang menyapa. Ketika ia telah berada pada tempat yang teduh, dibukanya ikatan bekal yang dibawa lalu dikeluarkan sebatang bambu berisi air serta sebongkah roti yang terbungkus daun pisang layu. Sebelum menikmati bekal, tidak lupa ia bersyukur atas apa yang ia miliki saat ini.

Pelan dan perlahan ia kemudian menyantap sepotong demi sepotong roti, meminum seteguk demi seteguk air sampai ia merasa berbeda. Perut yang tadi lapar, kenyanglah sudah. Tenggorokan yang tadi kering, basahlah kini. Ikhsan kembali bersiap melanjutkan perjalanan menuju suatu tujaan yang sama. Tiba-tiba, pandangan mata yang seharusnya diarahkan ke depan itu dengan tak sengaja melihat ke arah belakang. Disana ia melihat dua orang anak bersanding di bawah rindangnya pohon. Satu anak terlihat merebahkan kepala di saat anak satunya menopang dengan pundaknya. Dengan hati yang merasa terketuk, Ikhsan merubah langkah menuju kedua anak tersebut. Ikhsan menghampiri mereka dan tersenyum. “Assalamualaikum” ucapnya menyapa. “Waalaikumsalam” jawab kedua anak tersebut serentak. Lalu Ikhsan duduk di sampingnya, masih dengan senyuman Ikhsan pun bertanya nama.

Abu dan Samar adalah jawaban atas pertanyaan Ikhsan kepada kedua anak tersebut. Sambil menyodorkan sepotong roti dari bekal yang dibawa, Ikhsan terus bertanya-tanya kepada Abu dan Samar. Abu dan Samar pun sembari memakan roti yang diberikan Ikhsan terus memberikan jawaban. Sampai pada akhirnya Ikhsan merasa terharu karena mengetahui bahwa Abu dan Samar adalah saudara yang hidup dalam keadaan yatim piatu. Senyum Ikhsan tak lagi lepas digantikan dengan tetesan airmata di pipinya.

Matahari saat itu mulai mengusir mendungnya pagi, teriknya terasa panas menyentuh kulit yang kering. Ikhsan hanya bisa terdiam melihat Abu dan Samar yang dengan lahap menyantap roti pemberiannya. Airmata Ikhsan semakin tak terbendung ketika Abu dan Samar bercerita tentang kehidupannya. Ikhsan dengan hati tersentuh hanya diam mendengar kisah hidup Abu dan Samar, terlebih mereka menceritakannya dengan senyuman di wajahnya.

“Samar adalah adikku, usiaku tidak jauh berbeda dengan Samar”, ucap Abu membuka cerita. Umurku 9 tahun dan Samar, adikku berumur 7 tahun. Kami dari desa seberang. Kami ingin menuju ke suatu desa yang jaraknya masih jauh dari sini. Entah desa apa yang dimaksudkan oleh Abu, Ikhsan tidak mengetahuinya dan ia pun tidak bertanya. Kata ibu, di desa itu ada paman kami sedang menunggu. Aku dan Samar akan kesana menemui paman. Ibu juga pernah berkata kalau paman akan merawat kami sampai kami merasa bisa merawat diri sendiri. Abu terlihat cekatan dalam menyampaikan kenyataan. Abu terus menceritakan perjalanan hidupnya disaat Samar, sang adik tertidur kenyang di bahu Abu. Cerita Abu semakin membuat Ikhsan tidak mengerti akan jalur cerita yang disampaikan Abu. Ikhsan yang semakin bingung memberanikan diri memotong cerita Abu dan bertanya. “Ibumu dimana, wahai Abu?” tanya Ikhsan dengan nada pelan. “Ibu sudah meninggalkan kami beberapa bulan yang lalu” jawab Abu dengan kepala tertunduk. Penyesalan Ikhsan menanyakan hal itu tak membuatnya berhenti bertanya. “Lalu bagaimana dengan ayahmu wahai Abu?”. “Ayah kami pun telah meninggal saat usia Samar, adikku masih bayi dan itu sebabnya Samar tak pernah tau sosok ayah kami” jawab Abu dengan airmata menyertai jawabannya. Ikhsan terdiam seribu bahasa setelah mendengar jawaban dari Abu.

Hari semakin kelam, matahari bertambah panas, namun mendung di hati tetaplah mendung. Apa yang terjadi takkan pernah terulang kembali. Suasana hening sempat menghiasi percakapan antara Ikhsan dan Abu, sementara Samar masih tertidur. Lalu suara Adzan berkumandang memecah keheningan. Mendengar panggilan itu, Ikhsan mengajak serta Abu dan Samar untuk menuju sumber suara adzan tersebut untuk menunaikan ibadah shalat jumat yang merupakan kewajiban atas setiap laki-laki muslim. Menjawab ajakan itu, Abu membangunkan Samar dengan perlahan dan mereka pun melangkah bersama menuju rumah Allah SWT.

Dalam perjalanan singkat menuju tempat ibadah, Ikhsan tak henti-hentinya memikirkan nasib kedua anak tersebut. Walau begitu ia tidak mengutarakan fikirannya itu. Hanya berjalan dengan diam. Sesampainya di suatu Masjid, Ikhsan, Abu, dan Samar langsung mengambil air wudlu sebelum mereka duduk di dalam Masjid untuk menantikan saatnya shalat jumat.

Selepas shalat jumat, mereka tidak langsung beranjak dari mesjid melainkan berdoa untuk banyaknya harapan yang tersimpan. Sampai mesjid terlihat sepi, mereka masih disana. Ikhsan yang merasa masih ingin tau tentang kehidupan Abu dan Samar kemudian membuka bicara. “Wahai Abu dan Samar yang tegar. Adakah kalian akan tetap menjawab setiap pertanyaan yang akan aku tanyakan tentang kehidupan kalian?” ucap Ikhsan. Abu dan Samar hanya mengangguk, dan itu membuat Ikhsan melontarkan banyak pertanyaan kepada mereka. Semua pertanyaan Ikhsan pun dijawab oleh Abu dan Samar tanpa meninggalkan satu pertanyaan pun untuk dijawab. Hal yang membuat Ikhsan sangat terkejut adalah ketika ia menanyakan tentang orang yang dicari oleh Abu dan Samar. Satu pertanyaan yang menghadirkan rasa haru, sedih, tangis, yang datang secara bersamaan. Betapa tidak, ketika Ikhsan menanyakan tentang siapa orang yang dicari oleh Abu dan Samar, mereka menjawab “kami mencari Muhammad Ikhsan Al-Sabar”. Nama itu adalah nama lengkap dari dirinya. Hal itulah yang membuat Ikhsan tak henti-hentinya meneteskan airmata. Ikhsan pun memeluk Abu dan samar seperti enggan untuk dilepaskannya. Ikhsan yang telah berjalan jauh kini dipaksa kembali oleh keadaan. Melihat Ikhsan seperti itu, Samar bertanya dengan kepolosannya. “kenapa menangis?” lalu Ikhsan menjawab “akulah Muhammad Ikhsan Al-Sabar”, orang yang kalian cari dan akulah paman kalian. Mengetahui hal itu, Abu dan Samar langsung memeluk Ikhsan dalam tangis. Meskipun perjalanan Ikhsan harus terhenti, ia tak menyesali semuanya. Karena ia merasa bahwa pertemuannya dengan Abu dan Samar merupakan suatu keajaiban.

Awal pertemuan itu menjadi akhir dari pencarian Abu dan Samar akan orang yang dikatakan ibu mereka. Mereka yakin bahwa Ikhsan lah yang akan mendidik serta merawatnya hingga mereka besar nanti.

Jika kita renungkan kembali, pertemuan Ikhsan dengan Abu dan Samar bukanlah suatu kebetulan semata. Semuanya merupakan kehendak Allah SWT. Besarnya bumi menurut penglihatan mata dan kesaksian hidup kita, ternyata merupakan sebagian hal yang sangatlah kecil dari ciptaanNya. Jadi masih bisakah kita menyombongkan harta, tahta, bahkan segala yang kita miliki di bumi ini? Sementara kita mengetahui bahwa bumi tempat kita menjalani kehidupan sementara ini merupakan ciptaanNya yang sangat kecil.


Sumber: cerpenmu.com


  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: