Menganalisis Cuplikan Novel Hulubalang Raja

Bacalah cuplikan novel berikut ini.


Berontak

Sesampai ke rumah gedang pula, mereka itu pun disambut oleh putri-putri dan dayang-dayang dengan ratap tangis yang riuh rendah bunyinya. Oleh karena itu pada malam itu jua tahulah sudah segala isi Kampung Hulu akan kehilangan putri Ambun Suri yang tercinta itu. Semalam-malaman orang tiada tidur sekejap jua, gempar terkejut dan turun-naik rumah gedang dengan pikiran kacau: sedih, termangu, gugup, dan heran akan peristiwa yang tiada disangka-sangka itu.

Pada keesokan harinya gelanggang lengang selengang-lengangnya. Tak seorang jua yang ingat dan ingin hendak menyabung lagi. Laki-laki dan perempuan berduyun-duyun menghiliri sungai sampai ke muara dan ke tepi laut pula, akan mengulang mencari mayat sekali lagi. Beberapa nelayan yang tengah asyik menangkap ikan ditanyai oleh mereka itu, tetapi seorang pun tak ada yang dapat memberi keterangan yang agak jelas. Hanya dalam

percakapan dan bertanya-tanya apa sebab maka tuan putri sampai hanyut itu, sekonyong-konyong mereka itu terkejut dan berpandang-pandangan. Pada air muka dan cahaya mata masing-masing terbayanglah perasaan hatinya.

“Tak syak lagi,” kata seorang kepada temannya dengan berbisik-bisik.
“Apa?” kata teman itu dengan tercengang. “Fitnah?”
“Bukan, ya,—ulah cemburuan.”
“Siapa yang cemburu kepadanya?”
“Tentu saja putri… Kemala Sari! Siapa lagi?”
“Kita lihat kelak, kalau perkara itu tidak diusut dan diperiksa oleh Sultan….”
“Ia sudah tahu?”
“Tentu saja! Niscaya hal itu sudah dipersembahkan Sutan Ali Akbar kepadanya. Ingin hatiku hendak mendengar, bagaimana timbangan dan pendapat sultan.”

Memang pagi-pagi benar Sutan Ali Akbar sudah pergi menghadap Sultan Muhammad Syah di istana Kota Hilir. Dan baginda pun sangat terperanjat mula-mula mendengar kabar kecelakaan itu. Seketika itu juga baginda bertitah kepada perdana menteri akan mengerahkan rakyat menyertai orang Kampung Hulu mencari tunangannya. Akan tetapi ketika nyata Ambun Suri tiada bersua lagi, sedikit pun baginda tiada berusaha hendak menyiasat lebih lanjut. Tidak, perkara itu didiamkan saja sebagai tak berharga dan tak patut disebut-sebut menjadi rundingan. Kampung Hulu sudah sunyi, laksana negeri dialahkan garuda. Rakyat yang selama ini bersuka ria dan riang, kebanyakan termangumangu dan bermenungan. Gelanggang yang berakhir sesedih itu menjadi buah keluh dan sikap sultan yang bagai acuh tak acuh itu pun menjadi buah sungut dan berungut bagi mereka itu.

Rumah Raja di Hulu tiada berseri, tiada bersemarak sedikit jua lagi. Bungabungaan dalam taman laksana layu, kemuning pautan kuda di halaman sebagai tumbang dan rumah gedang seperti tak berhuni lagi. Anjung kemuliaan sudah menjadi tempat sakti bagi Raja di Hulu dan putri Reno Gading, tiada pernah dijejak dan ditempuhnya, tiada sekali jua dibukanya pintu dan jendelanya.

Ayam penaik sudah hilang, bendul tiada berbuluk lagi! Sutan Ali Akbar sudah berubah benar sifat dan tabiatnya. Siang hari tak pernah ia kelihatan, tiada pernah bersua dengan sahabat kenalannya, tetapi malam hari ia mengembara ke mana-mana dengan bersenjata sebelit pinggang. Malam ini ia datang ke rumah si anu, malam lain ke rumah si polan, akan bercakap-cakap dengan mereka itu. Asyik cakapnya, sungguh rundingnya, tetapi sekaliannya itu selalu dilakukannya dengan berbisik-bisik dan ingat-ingat benar. Ada kira-kira tiga pekan ia berlaku sedemikian. Hampir sekalian rumah orang besar-besar dan ternama dalam daerah Inderapura sudah dinaikinya, hampir sekalian mereka itu sudah dilawannya berunding dengan rahasia.

Pada suatu malam, ketika sesudah makan malam ia telah siap hendak berangkat pula, berkatalah Raja di Hulu kepadanya, “Hendak ke mana pula engkau, Buyung?”
Ali Akbar tertegun, tertegak seperti patung.
“Duduk dahulu kembali, Buyung; ada yang hendak kukatakan,” katanya pula dengan lemah-lembut.

Dan ketika permintaannya itu sudah diperkenankan oleh anaknya dengan berdiam diri-saja, disambungnyalah perkataannya, “Heran aku melihat tingkah lakumu dalam beberapa pekan ini. Dan rupamu pun sudah berubah benar, sudah jauh bertambah tua. Apa yang engkau kerjakan, apa yang engkau risaukan?”

Tiada juga Ali Akbar membuka mulut, melainkan ia memandang kepada ayahnya dengan mata yang agak liar.
“Coba katakan kepadaku terus terang, apa yang tersimpan dalam hatimu sekarang?”
“Ayah,” kata Sutan Ali Akbar dengan menarik napas panjang, “Banyak yang hamba pikirkan dan kerjakan; bukan sedikit yang hamba risaukan. Siapa takkan risau dan susah, Ayah, adiknya hilang tak bercari dan lulus tak berselami?”
Raja di Hulu termenung sejurus.
“Kan sudah kita cari dan sudah kita selami?” katanya kemudian dengan sayu.
“Tidak bertemu, apa daya kita?”
“Dituntut belanya,” kata Ali Akbar dengan pendek, dan bulat bunyi suaranya.
“Apa maksudmu?” tanya ayahnya dengan terkejut.
“Perlu jua hamba terangkan kepada Ayah lagi? Baik! Dituntutkan belanya, kata hamba, sebab Ambun Suri bukan hanyut dengan tidak bersebab, Ayah! la pergi mandi berdua saja dengan Kemala Sari, dengan bakal madunya; maka syak hati hamba bahwa ia celaka kena fitnah, bahkan karena dicelakakan si khianat….”
“Akbar! Ingat-ingat mengeluarkan perkataan!”
“Bukan hamba saja bersangka semacam itu, sekalian orang pun berpendapat begitu juga: tetap mengatakan, bahwa Kemala Sari berdosa kepada adik hamba… Jangan Ayah sela perkataan hamba dahulu, bahkan ada yang telah menerangkan kepada hamba, bahwa mundam si Upik bukan hanyut, melainkan sengaja dihanyutkan oleh si khianat itu.”
“Benar?” kata Raja di Hulu dengan naik darah, dengan berang tiba-tiba, sehingga bersinar-sinar matanya.
“Benar! Dan perkara ini sudah hamba sampaikan kepada Muhammad Syah; hamba minta kepadanya, supaya Kemala Sari disiasat dan diperiksa.”
“Apa jawabnya?”
“Mula-mula ia terperanjat, seakan-akan percaya akan keterangan hamba itu. la berjanji akan menyiasat istrinya. Tetapi keesokan harinya, ketika hamba datang menghadap pula, berubah benar pendiriannya dari kemarin dahulu itu. Hamba diusirnya seperti anjing … di hadapan sultan tua. Katanya, hamba mengada-ada saja, berbuat fitnah kepada istrinya yang “lurus” dan “baik hati” itu. Dan sultan Malafar Syah pun mengancam hamba akan dibinasakannya, kalau hamba berani menyebut-nyebut perkara itu jua.”
“Hem, begitu?”
“Dan bukan hamba saja, Ayah, sekalian kaum keluarga hamba, Ayah Bunda hendak dienyahkannya dari sini, dan harta benda kita akan dirampasnya.”
“Betul begitu katanya?” ujar Raja di Hulu dengan keras, meradang ia rupanya. “Begitu kata si tua bangka itu? Terlalu! Boleh dicobanya! Akan tetapi jangan disangkakan aku seperti orang lain, seperti rakyat lain, yang suka saja dikutak-katikkannya, dicucutnya darah dan benak kepalanya!”

Entah besar, entah terharu hati Ali Akbar melihat hal ayahnya berang sedemikian, tak dapat ditentukan dengan pasti, sebab ia berkata dengan tenang.

“Perlahan-lahan sedikit. Ayah. Hari malam… Tak usah Ayah campur pula dalam perkara itu; biar hamba saja menyelesaikan dia, dan biar hamba saja menuntut bela adik hamba.”
“Hendak engkau pengapakan putri Kemala Sari itu?”
“Sekarang kita tidak berhadapan terus dengan perempuan itu lagi, melainkan dengan suaminya dan mertuanya.”
“Habis?”
Orang muda itu mendekatkan mulutnya ke telingan ayahnya, lalu berbisik. “Sebelum hamba putar negeri ini, belum senang hati hamba. Dengan sendirinya, kalau kehidupan sultan sudah terancam, Kemala Sari takkan senang diam lagi. Dosanya akan menghukum jiwa raganya, Ayah!”

Raja di Hulu tercengang. Pada lakunya menegakkan kepalanya memandang kepada anaknya nyata kelihatan bahwa ia ragu bimbang dan kuatir sangat akan maksud orang muda itu. Dalam pada itu Ali Akbar berkata pula dengan perlahan-lahan dan lambat-lambat, “Jangan Ayah cemas. Sudah selesai belaka! Sekalian orang besar-besar, yang berkuasa benar kepada rakyat dan rasa-rasa patut campur serta dapat berpihak kepada kita, sudah hamba jelang dengan diam-diam dan sudah hamba tanyai nafsunya. Bagai mengayuh biduk hilir,—sekaliannya mengeras supaya hamba segera memulai pekerjaan itu.”

“Ali Akbar, Anakku,” kata Raja di Hulu dengan suara agak gemetar, serta memperhatikan air muka anaknya. “Sampai ke situ tiada terpikir olehku! Ingat, apa dan betapa akibat perbuatanmu itu kelak kepada negeri dan rakyat. Tiada ada sesuatu putar negeri, pemberontakan atau peperangan yang tidak menelan dan memusnahkan nyawa dan harta benda rakyat, Buyung!”

“Barangkali,—tetapi hamba membela adik hamba, dan rakyat hendak melepaskan diri daripada kelaliman dan tindihan. Sekarang beri izin hamba pergi ke rumah mamanda Raja Maulana, Ayah,” kata Sutan Ali Akbar sambil bangkit berdiri, “ada suatu mupakat penting yang belum putus dengan dia.”
“Akbar! Sabar, tenangkan pikiranmu!”
“Apa guna hamba hidup lagi, jika malu yang sebesar ini tak dapat hamba pupus?”
“Dasar pikiranmu hanya balas dendam.”
“Mungkin begitu mulanya. Akan tetapi sekarang, sebagai anak muda hamba tak dapat membiarkan kelaliman terus-menerus. Hamba harus pula membela rakyat, bagi masa yang akan datang. Sebab itu izinkan hamba pergi, Ayah.”

Raja di Hulu termenung sejurus, sambil mengernyitkan alis matanya. Tiba-tiba ia pun berkata dengan tegas, “Sudah kaupikirkan benar-benar, bahwa pihak sultan adalah mempunyai tulang punggung yang kuat?”
“Siapa? Rakyat sudah berpihak kepada kita sekaliannya.”
“Orang asing,—kompeni!”
Merah padam air muka orang muda itu, dan bertambah cepat jalan darahnya.
“Oh, kalau sultan mau menjual negeri, semakin keraslah hasrat hati hamba hendak menumbangkan dia dari atas singgasananya. Hal itu akan hamba bicarakan dengan mamanda Raja Maulana dan kawan yang lain-lain kelak.”
“Baik,—dan sekali-kali jangan diabaikan perkara itu.”
“Nasihat Ayah itu akan hamba pegang teguh-teguh.”

Setelah itu ia pun turun ke halaman dengan hati-hati, lalu hilang di dalam gelap gulita. Sungguh rakyat Inderapura sudah lama merasai, menanggung dan menderitakan kelaliman dan keganasan sultan tua yang loba tamak itu. Sungguh sudah lama terasa di hati rakyat hendak meluputkan diri daripada tindihan, tetapi selama ini mereka itu tiada berani mengeluarkan perasaan itu. Sakit hati rakyat tersimpan, tertanam saja di dalam dada masing-masing.

Seperti api dalam sekam,—menganguskan dan membakar jantung hati dengan tiada berasap sedikit jua! Hanya bahwa perasaan sedemikian lambat laun akan menyembur juga ke luar dengan hebat, mereka itu pun yakin dan percaya semuanya. Sakit hati! Bukan terhadap kepada Malafar Syah saja, tetapi kepada sultan muda juga, karena ia tiada memperhatikan dan mempertahankan hak rakyatnya. Cuma-cuma saja ia jadi sultan! Dan perkara kehilangan putri Ambun Suri yang didiamkan itu pun menambah besar dendam kesemat rakyat kepada Muhammad Syah yang lemah itu.

Dalam keadaan sedemikian, sedang hati rakyat mengkal semacam itu, tiba-tiba Sutan Ali Akbar bergerak hendak merebut kekuasaan. Orang muda, yang dikasihi rakyat, karena baik hatinya dan nyata ketangkasan dan keberaniannya! Terbuka lubang kepundan gunung berapi… Dengan tidak berpikir panjang lagi orang besar-besar berjanji erat hendak menyokong dan menunjang cita-cita orang muda itu. Dengan segera mereka itu pun bersiap akan melengkapkan alat senjata: parang, pedang, lembing, dan tombak diasah tajam-tajam.

Inderapura akan menjadi medan perang…

N. St. Iskandar.2001. Hulubalang Raja.
Jakarta: Balai Pustaka


Tambahan Referensi

Hulubalang Raja (judul lengkap: Hulubalang Raja: kejadian di pesisir Minangkabau tahun 1662-1667) adalah novel karya Nur Sutan Iskandar yang pertama kali diterbitkan Balai Pustaka pada tahun 1934. Novel ini berkisah tentang konflik antara raja-raja yang terjadi di pesisir selatan Minangkabau pada abad ke-17, yang juga melibatkan kompeni Belanda dan Aceh.
Novel ini ditulis berdasarkan keterangan sejarah. Dalam kata pengantarnya Nur Sutan Iskandar menyebutkan bahwa “segala keterangan dan cerita yang berhubungan dengan sejarah yang terdapat dalam buku ini dipungut dari kitab De Weskust en Minangkabau (1667-1668), yaitu academisch proefschrift oleh H Kroeskamp yang dicetak oleh Drukkerij Fa. Schotanus & Jens di Utrecht dalam 1931”. Hulubalang Raja menurut Ajip Rosidi dan H.B. Jassin merupakan novel terpenting Nur Sutan Iskandar. Novel ini juga merupakan novel pertama Indonesia yang beralur ganda.
Sampai cetakan ketiga, Hulubalang Raja diterbitkan Balai Pustaka. Cetakan keempat diterbitkan penerbit Nusantara Bukittinggi-Jakarta. Cetakan selanjutnya sampai sekarang kembali ditangani Balai Pustaka.

Ringkasan Cerita

Ketika Ambun Suri, putri Raja Di Hulu sudah dewasa, diundanglah para bangsawan di sekitar Kampung Hulu Inderapura untuk mengadu peruntungan menjadi suaminya. Hampir saja tidak ada yang beruntung, kecuali Sultan Muhammad Syah dari Kota Hilir Inderapura. Ambun Suri menerimanya bukan karena tertarik, tapi karena Sultan Muhammad Syah merupakan raja yang lebih berkuasa daripada Raja Di Hulu, dan dia ingin berbakti kepada orang tuanya.
Kejadian tersebut mengundang pergunjingan di masyarakat, karena Sultan Muhammad Syah adalah sultan yang tamak yang menurut mereka tidak patut menikah dengan putri cantik yang berbudi tersebut. Putri Kemala Sari, istri pertama Sultan Muhammad Syah juga panas hatinya dan tidak merelakan suaminya memperistri Ambun Suri, yang dulu menjadi teman sepermainannya. Dia pun merencanakan menggagalkan perkawinan tersebut.
Kemala Sari mengajak Ambun Suri mandi di sungai. Di sana dia mencelakakannya sehingga putri yang baik hati tersebut hanyut tenggelam. Segala usaha mencari mayatnya gagal.
Sutan Ali Akbar yang bergelar Raja Adil, kakak Ambun Suri marah ketika dia mengetahui kematian adiknya adalah ulah istri Muhammad Syah. Perang pun pecah antara kedua raja tersebut. Muhammad Syah kemudian meminta bantuan kompeni, yang menambah kegeraman Raja Adil.
Namun akhirnya Raja Adil kalah, dan daerahnya dibumihanguskan. Penduduknya dibinasakan, beserta kedua orang tua Raja Adil. Dia sendiri mundur beserta pasukannya untuk menyusun kekuatan kembali.
Sementara itu cerita beralih kepada Sutan Malakewi, seorang pemuda yang merantau mengadu peruntungan. Dia meninggalkan kampungnya karena kegemarannya menyabung ayam telah menghabiskan kekayaan orang tuanya, yang kemudian tidak mau lagi memberinya uang. Dia bergabung dengan rombongan saudagar, yang kemudian diserang penyamun. Sutan Malakewi berhasil meloloskan diri, dan ditolong oleh Putri Rubiah yang memiliki putri cantik yang bernama Sarawaya.
Sutan Malakewi dibawa menghadap Orang Kaya Kecil, yang punya hubungan dengan kompeni Belanda. Orang Kaya Kecil kemudian menganggap Sutan Malakewi sebagai anaknya sendiri. Apalagi kemudian dia mengetahui Sutan Malakewi sering menumpas orang-orang Pauh yang sering melakukan penyerangan terhadapPadang, pusat kekuasaan kompeni di pesisir Minangkabau . Sutan Malakewi kemudian berkomplot dengan kompeni.
Pada saat itu kompeni tidak hanya bermusuhan dengan raja-raja setempat, tetapi juga dengan Aceh yang masih berkuasa di daerah utara pesisir Minangkabau. Sutan Malakewi, yang kemudian diberi gelar Hulubalang Raja, tidak menolak untuk menumpas musuh-musuh kompeni. Dia berhasil menghancurkan musuh-musuhnya, kecuali Raja Adil yang gigih bertahan.
Hulubalang Raja kemudian mencari adiknya yang dikabarkan diculik oleh Raja Adil. Dia meninggalkan Orang Kaya Kecil dan Putri Sarawaya, yang kini sangat mencintainya, masuk ke daerah Raja Adil dengan menyamar. Namun penyamarannya terbongkar. Dia kemudian di bawa ke hadapan Raja Adil. Hulubalang Raja kemudian terkejut karena ternyata adiknya Adnan Dewi telah menjadi istri Raja Adil. Orang yang menjadi musuhnya selama ini ternyata iparnya sendiri. Raja Adil dan Hulubalang Raja kemudian melupakan permusuhan mereka dan berdamai.

Sumber: id.wikipedia.org


Menganalisis Novel Angkatan 20-30an

Setelah kamu membaca ringkasan novel tersebut, bentuklah kelompok diskusi yang terdiri atas empat atau lima orang. Diskusikan dalam kelompokmu hal-hal berikut ini!

  1. Sebutkan tokoh-tokoh yang terdapat dalam novel tersebut!
  2. Jelaskan karakter masing-masing tokoh!
  3. Jelaskan latar terjadinya cerita tersebut!
  4. Apakah pesan atau amanat yang terdapat dalam cerita itu?
  5. Apakah tema cerita tersebut?
  6. Temukan adat atau kebiasaan yang terdapat dalam novel tersebut!
  7. Apakah yang dapat kamu rasakan dari isi cerita tersebut dengan kehidupan sekarang ini? Berikan tanggapanmu!
  8. Adakah nilai sejarah yang dapat kamu temukan dalam cerita itu?

Unsur-unsur yang telah kamu diskusikan tersebut terdapat dalam teks karya sastra (novel). Unsur-unsur yang terdapat dalam karya sastra seperti itu disebut unsur intrinsik. Dengan demikian unsur-unsur intrinsik sebuah karya sastra meliputi tema, tokoh, karakter tokoh, latar, alur, pesan atau amanat.


Sumber:
Tri Retno Murniasih dan Sunardi. 2008. Pelajaran Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas IX. Jakarta: Pusat Perbukuan Depdiknas. 129-134.


  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: