Kisah Ujian dalam Hidup

Selama kita hidup pastilah akan selalu ada ujian atau masalah, karena ujian adalah sunnah kauniyah (ketetapan Allah yang pasti terjadi) bagi setiap Muslim, dan seorang Muslim tidak mungkin mengelak dari ujian tersebut. Allah berfirman dalam QS. (3) Ali ‘Imran: 186.

Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu.

Ada sebuah cerita tentang seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya yang wajahnya belakangan selalu tampak murung. Sang guru bertanya kepada muridnya mengapa wajahnya tampak murung, tidak ada wajah bersyukur yang selama ini selalu tampak. Si murid menjawab bahwa hidupnya selalu penuh dengan masalah yang datang bertubi-tubi seperti tidak ada habisnya, sehingga menyebabkan wajahnya sulit untuk tersenyum.

Sambil tersenyum, Sang Guru lantas meminta Si Murid untuk mengambil segelas air dan dua genggam garam. Sang Guru mengatakan bahwa ia akan memperbaiki suasana hati Si Murid. Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta. Sang Guru menyuruh Si Murid untuk memasukkan segenggam garam dan memasukkannya ke dalam segelas air yang dibawanya tadi, kemudian menyuruh Si Murid meminumnya. Si Murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin, dan perutnya terasa mual. Sang Guru tertawa melihat wajah muridnya yang meringis keasinan. Sang Guru kemudian membawa muridnya ke danau di dekat tempat mereka, dan menyuruh muridnya itu untuk menabur sisa garam ke danau. Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan guru, begitu pikirnya.

Sang Guru kemudian menyuruh muridnya untuk meminum air danau itu. Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya. Si Murid mengatakan bahwa tenggorokannya kini menjadi segar, sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya. Sang Guru bertanya lagi apakah rasa garam yang tadi ditebarkan terasa di mulut Si Murid. Si Murid menjawab bahwa tidak terasa asin sama sekali, sambil ia mengambil air dan meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.

Kemudian Sang Guru berkata pada Si Murid bahwa segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus dialami sepanjang kehidupan itu sudah dikadar oleh Allah, sesuai untuk diri kita. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah. Tapi, rasa `asin’ dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya ‘qalbu’ (hati) yang menampungnya. Jadi, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbu dalam dadamu itu jadi sebesar danau. Si murid hanya terdiam, mendengarkan.”Besar kecilnya masalah tergantung keluasan hati”

Ketika hati sempit, maka masalah kecil pun akan menjadi suatu penderitaan yang berat, namun ketika hati lapang, maka masalah yang besar sekalipun akan terasa ringan.
-Abeng-

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: